Eksistensi Aksara Sunda Ditengah Budaya Sunda

topbogor.com, Miris memang untuk saat ini ditengah gencarnya melestarikan kebudayaan sunda banyak kalangan yang lupa bahwa sunda bukan hanya budaya,musik tradisional juga bahasa tapi ada juga yang namanya aksara sunda yang kurang begitu dapat tempat dihati masyarakat khususnya masyarakat sunda itu sendiri Karena memang pada dasarnya Belajar aksara sunda bukanlah suatu hal yg mudah, tapi memang kita perlu proses untuk bisa memahami apa dan seperti apa aksara sunda itu Banyak orang yg belum mengetahui tentang aksara sunda, Mengapa? Siapa yang salah? Apakah kita sendiri sebagai orang sunda yg malas belajar atau guru kita karena tidak memberikan pengajaran?
Jawabannya tidak ada yg perlu disalahkan, karena semua balik kepada diri masing-masing apakah mau belajar atau tidak, ada kemauan untuk melestarikan aksara sunda atau tidak.

Agar sekarang dan kedepan masyarakat lebih mengenal dan meminati bahkan membumingkan aksara sunda, tentunya kita sebagai relawan aksara / komunitas aksara bahkan pemerintahnya pun harus ikut serta dalam perjuangan kita melestarikan aksara sunda. Dengan cara apa? Ya tentunya “mudah – mudahan dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan mengenai keaksara Sundaan secara menyeluruh untuk semua kalangan, karena belajar aksara sunda itu tidak dibatasi oleh umur atau apapun itu”.Tutur Ussi Penggiat Aksara Sunda Dari JAS

Belajar aksara sunda sebisa mungkin dibuat nyaman, dibuat menarik agar tidak bosan, tentunya kita yg harus kreatif sebisa mungkin membuat gebrakan baru. Misal dibuat nyanyian atau semisalnya lanjutnya.

Dan juga Perlu adanya sosialisasi yang harus diterapkan diberbagai tempat.
Begitu juga pentingnya peran serta para budayawan dan pemerintah yang sangat diperlukan dalam pelestarian aksara, karena yang sering ditonjolkan dalam helatan budaya biasanya hanya sekitar peninggalan dan seni, Sementara aksara jarang dilibatkan,
“yang sangat saya ingat dalam salah satu “rajah pambuka” yaitu: direka dina aksara, dirangkao dina carita, Jadi aksara tidak lepas dari yg namanya sejarah (ditulis/tertulis)”.Ucap Abah Asep Dari KUAS Bogor
penerapan dan pembelajaran juga harus diterapkan kepada para pendidik (guru)
dimulai dari tingat sekolah dasar lanjutnya.

Umarudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish