Selalu di hantui rasa ketakutan,Warga Pariuk Minta Pemkab Serius Tangani Relokasi

Nanggung, topbogor.com – Jelang memasuki akhir tahun 2020, sejumlah korban bencana pergeseran tanah di Kampung Pariuk RW 07 Dusun 03, Desa Nanggung, Kecamatan Nanggung, kabupaten Bogor, masih belum mendapat kepastian relokasi. Warga Pariuk mengaku sudah kesal karena lamanya menunggu relokasi yang tak kunjung dimulai.

“Kejadian pergeseran tanah di Kampung Pariuk terjadi tahun 2016, jadi sudah cukup lama warga menunggu,” kata Kepala Dusun 3 H Deden Mulyawidanta kepada topbogor, Selasa (17/11).

Padahal, kata H Deden, warga sudah siap direlokasi karena keadaannya sudah mengkhawatirkan. Bahkan diperparah musibah pada awal tahun Januari lalu yang kembali menerjang warga kampung Pariuk.

“Keinginan warga untuk direlokasi kini semakin kuat, karena mereka sudah tak nyaman dan dihantui ketakutan,” kata dia.

Tercatat sebanyak 45 Kepala Keluarga (KK) korban pergeseran tanah di Kampung Pariuk, berikut korban musibah banjir tahunan dari luapan kali Cidurian, sebanyak 5 rumah dibantaran kali tersebut tepatnya di Kampung Kadu Kandel dengan radius tidak jauh dari Kampung Pariuk juga meminta untuk dipindahkan ketempat yang lebih aman.

“Kalau saya katakan Pemkab Bogor dalam menangani permasalahan bencana alam dinilai lambat, inikan kejadiannya sudah lama sebelum adanya Covid- 19 Kampung Pariuk pada tahun 2016 lalu sudah diterjang bencana alam pergeseran tanah, Total ada 51 di dua kampung meminta kepastian kapan bangunan relokasi segera dimulai,” ungkapnya.”

Dampak dari bencana itu, hampir seluruhnya rumah warga retak-retak dan mengalami kerusakan.

“Maka dari itu warga sering mempertanyakan datang ke desa kapan bangunan rumah relokasi dikerjakan,” kata dia lagi.

Warga sudah hampir bosan dilakukan pendataan tetapi tanggapan serius dari pemerintah sampai sekarang tidak ada.

” Kami sudah bosan rumah rumah warga kami difofo didata, namun pelaksanaan relokasi sampai sekarang juga belum dilakukan,” keluh ketua RT setempat, Ili.

Menurut Ili, kalau terus dibiarkan warga di kampung Pariuk bisa bahaya apalagi keberadaan rumah- rumah yang sangat berdekatan dibibir tebing dengan keadaan curam sekitar sedalam 120 meter.

” Petugas mulai BPBD, PMI serta pihak lainnya sudah cek lokasi tapi, ya begitu sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” tuturnya.

Sementara, salah satu warga korban pergeseran tanah di Kampung Pariuk yang rumahnya berdekatan dengan bibir tebing, Nenah (42) mengaku ketakutan pasca musibah bencana alam terjadi beberapa tahun lalu.Ditambah adanya longsor persisnya didepan rumahnya.

“Waktu kami melihat sendiri bencana longsor kemudian kami langsung lari keluar. Sambil menggendong kedua anak yang masih kecil kecil kami langsung keluar,” imbuhnya.

“Sampai sekarang masih merasa was was apalagi disaat hujan besar, mau siang mau malam ketika ada hujan mah kami sekeluarga pasti pindah ke rumah sodara,” pungkasnya.

(Arip Ekon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish